Jumat, 19 Januari 2018

91 Tahun Yang Lalu Kongres Terbesar Perempuan Digelar Di Surabaya

91 Tahun Yang Lalu Kongres Terbesar Perempuan Digelar Di Surabaya




Surabaya - Ada sejarah penting yang harus diingat oleh kita, terutama warga Aisyiyah. Tepat pada 91 tahun yang lalu, di Surabaya telah diselenggarakan Muktamar atau Kongres Muhammadiyah dan Aisyiyah ke 15 disampaikan oleh Haedar, sapaan akrabnya, mulai bercerita dihadapan wakil presiden (Wapres) Jusuf Kalla, Walikota Surabaya Tri Rismaharini, peserta tanwir yang diikuti oleh perwakilan Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) 34 provinsi, dan para tamu undangan lainnya. Jumat (19/01/2018). Saat itu tepat pada tahun 1926 masehi. Kongres ini berlangsung di gedung bioskop yang berada di jalan Kranggan-Surabaya. Yang mencengangkan adalah belum ada saat itu perhelatan besar yang melibatkan kaum perempuan, karena yang kita tahu bahwa kongres terbesar perempuan pada tahun 1928, dua tahun setelah kongres Aisyiyah. Ada dua surat kabar ternama di Surabaya, Pewarta Surabaya dan koran milik negara Tiong Hoa. Keduanya memuat besar-besaran dan mengapresiasi sosok dibalik persidangan itu, yakni Nyai Walidah (istri Ahmad Dahlan).

Sebelum Nyai Walidah dipenghujung hidupnya, beliau berpesan kepada salah satu anggota tanwir yang menjenguk beliau, satu hari setelah kemerdekaan, Indonesia kata Nyai Walidah, telah merdeka tetapi tinggallah yg belum merdeka adalah Agama Islam dan Umatnya. Belum merdeka dari kekolotan. " Maka suburkanlah Muhammadiyah dan Aisyiyah agar bisa mengisi Indonesia yg baru merdeka menjadi baldatun thoyybatun warabbun ghofur. Sehingga rakyat Indonesia makmur, bahagia dunia dan akhirat " , tutur Haedar Nashir Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada pembukaan Tanwir I Aisyiyah yang diadakan di Universitas Muhammadiyah Surabaya. (Azmi)


Kamis, 18 Januari 2018

Temu Pengusaha Pra Tanwir I Aisyiyah

Temu Pengusaha Pra Tanwir I Aisyiyah



Surabaya - “Kita harus bisa mengurusi diri sendiri kalau ingin usaha yang kita jalankan berhasil.” Pernyataan itu disampaikan Wakil Ketua Majelis Ekonomi Pimpinan Pusat Aisyiyah Latifah Iskandar pada Temu Pengusaha dalam kegiatan Pra Tanwir I Aisyiyah di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Kamis, (18/1/18).
Di hadapan 300 pengusaha Aisyiyah dari berbagai daerah di Indonesia, Latifah menekankan pentingnya penguasa mentas ngurusi urusannya sendiri.
“Dengan bisa mengurusi diri sendiri maka akan terampil dan berkesempatan mengembangkan usahanya,” ujar
wanita asli Yogyakarta itu sambil berpesan pentingnya para pimpinan atau majelis memahami kultur ekonomi dan membangunya di daerah masing-masing.
Dalam membangun kultur ekonomi tidak boleh meninggalkan karakteristik Aisyiyah, sebagai citra ke-Aisyiyah-an.
“Aisyiyah adalah gerakan Islam berkemajuan. Maju dalam berfikir, bersikap, dan bergerak. Kalau tidak berkemajuan berarti bukan Muhammadiyah,” tuturnya.
Perempuan di Aisyiyah, lanjutnya, adalah perempuan berkemajuan. “Dan yang tidak boleh lupa Aisyiyah berbasis akar rumput. Artinya Aisyiyah itu tumbuh, berkembang, dan besar dari bawah. Ora ujug-ujug besar dari atas,” kata dia.
Menurutnya, Aisyiyah juga memiliki karakter praksis amal usaha, yaitu selalu membangun dan mengembangkan amal usaha sebagai keberdayaan ekonomi untuk menopang gerak dakwah. “Walau begitu kita harus tetap berwawasan kebangsaan dan membawa manfaat untuk umat,” pesannya.
Dari data statistik, tambahnya, pengusaha di Jawa Timur menduduki peringkat terbesar di Indonesia, “Jatim gak bakal kesalip oleh daerah lain,” kata Latifah disambut tepuk tangan peserta .
Dia mengungkapkan, “Kendala pengembangan bisnis bagi pengusaha Aisyiyah adalah peran kita hanya menguasai 20 persen saja dari 80 persen peluang usaha. Termasuk bagaimana memasarkan produk, dan berjejaring sosial guna mengmbangkan usaha.”
Intinya, kata dia, kalau kita tidak melek mata terhadap kemajuan zaman dengan terampil dan terus mengasah diri dalam mengurus urusan sendiri, makan akan tertinggal dari yang lain.
Semangat berwirausaha para pengusaha Aisyiyah

Senam masal 1000 siswa TK Aisyiyah se kota Surabaya

Senam masal 1000 siswa TK Aisyiyah se kota Surabaya


Pagi yang cerah ceria diiringi tawa canda siswa TK Aisyiyah yang sumringah dan penuh semangat menambah warna warni  rangkaian pra Tanwir I Aisyiyah  yang akan digelar 19- 21 Januari mendatang di gedung at tauhid Unmuh Surabaya
Celoteh - Celoteh lucu balita sudah tak terdengar kala bunda Lilik Tarwijah menyampaikan prolog pengantar senam yang akan dilakukan serempak dan bersama-sama
Menghargai dan disiplin kemandirian tercermin pada gerakan - gerakan indah yang mereka lakukan dengan kepolosan , kelucuan dan tingkah putra putri kebanggaan orang tua , agama , bangsa dan negara
Satu varian senam telah usai , namun semangat pemanasan sudah terlihat pada wajah polos anak-anak harapan bangsa penerus cita-cita mulia para pendahulunya untuk melanjutkan estafet perjuangan mereka
Dengan panduan kolaborasi cantik antara instruktur  yang ada di depan panggung dengan guru - guru TK Aisyiyah se Surabaya yang tergabung dalam IGABA  ( Ikatan guru bustanul athfal) jajaran pimpinan daerah Aisyiyah kota Surabaya ikut larut dalam euforia kebahagiaan nya

Semangat membara dari siswa - siswi TK Aisyiyah se Surabaya telah menyebar bagaikan virus positif yang membakar peserta senam masal pagi ini dengan seragam hijau kuning yang segar .

Gerakan pemberdayaan ekonomi perempuan sebagai pilar kemakmuran bangsa

Gerakan pemberdayaan ekonomi perempuan sebagai pilar kemakmuran bangsa


Surabaya - Keprihatinan Aisyiyah melihat kondisi perekonomian di negeri ini yang tak kunjung membaik , memberi inspirasi tersendiri bagi Aisyiyah sebagai organisasi perempuan tertua di Indonesia yang akan menggelar sidang Tanwir I pada tanggal 19 – 21 Januari 2018 di kota Surabaya dengan mengangkat tema “Gerakan pemberdayaan ekonomi perempuan sebagai pilar kemakmuran bangsa “

 "Tema ini diambil karena pimpinan pusat melihat realitas bangsa yang masih terus menghadapi permasalahan ekonomi yang memprihatinkan. Maka yang menjadi concern dalam tanwir kali ini adalah problem perekonomian," ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantin di Kampus Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya), Jalan Raya Sutorejo 59, Surabaya, Kamis (18/1/2018).
Bersamaan dengan kegiatan tanwir I Aisyiyah di kota Surabaya ini Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan (MEK) pimpinan wilayah Aisyiyah se Indonesia  menggelar bazar untuk menunjukkan pada wilayah dan daerah lain potensi yang dimiliki sebagai amal usaha Aisyiyah . 

Bazar yang menyediakan aneka produk mulai dari makanan minuman, aksesoris hingga fashion ini sebagai salah satu penerjemahan tema Tanwir I Aisyiyah "Implementasi gerakan pemberdayaan ekonomi sebagai pilar kemakmuran bangsa." Tutur Retno Setiowati  MEK PWA Jawa Timur sekaligus panitia penanggung jawab bazar Tanwir I Aisyiyah

Tatik Lutfiati  ketua majelis ekonomi pimpinan wilayah Aisyiyah Jawa Timur menyampaikan “Dibukanya stand ditargetkan 46 stand ternyata habis terisi oleh produk majelis ekonomi se Indonesia , mereka berlomba-lomba untuk memperkenalkan produknya dari lembaga lembaga pembina ukm juga pelaku usaha nya saling berjejaring untuk merealisasikan itu “ tuturnya

“ Selain Bazar Produk Unggulan , panitia juga  menyiapkan berbagai agenda acara yang akan menyukseskan siding tanwir I Aisyiyah di antaranya temu usaha  , tampilan seni dan lain sebagainya “ . Pungkasnya ( Bunda Tri )


Rabu, 17 Januari 2018

Support luar biasa Pemkot untuk Tanwir I Aisyiyah

Support luar biasa Pemkot untuk Tanwir I Aisyiyah

Pimpinan Daerah Aisyiyah Surabaya menikmati City Tour Surabaya dengan mengendarai Bis Bantuan dari Pemkot Surabaya

Terimakasih untuk ibu kebanggaan warga Surabaya, Tri Rismaharini yang telah memberikan support yang luar biasa untuk peserta Tanwir I Aisyiyah berupa :
1. Penerangan lampu
2. Pengaspalan jalan
3. Pengaturan parkir
4. Sterilisasi PKL
5. Mobil toilet dan Toilet Portabel
6. Kebersihan Saluran
7. Welcome Dinner
8. Bis Kota 4
9. Ambulance dan Posko Kesehatan
10. Wisata City Tour
Mohon ditambahi kalau masih ada yang kurang, karena Bu Risma minta semua dilayani dengan Terbaik

Welcome Gala Dinner Peserta Tanwir I Aisyiyah

Welcome Gala Dinner Peserta Tanwir I Aisyiyah


Surabaya - Walikota Surabaya Tri Rismaharini menyambut baik ditunjuknya Kota Surabaya sebagai tuan rumah Tanwir I Aisyiyah. Bertempat di rumah dinas Walikota Surabaya, Jalan Taman Surya No 1 Surabaya, Risma menggelar acara Welcome Gala Dinner, Rabu (17/1/18). Acara ini dihadiri oleh peserta Tanwir Aisyiyah 1 yang sudah hadir pada hari itu.
Selain menikmati hidangan yang telah disediakan, ada hal unik dalam acara ini. Risma menjadi rebutan untuk berfoto bersama para peserta yang fatang dari seluruh Indonesia, bahkan dari Cabang Istimewa Luar Negeri.
Anggota Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat Aisyiyah Vivi mengaku kagum dengan sosok Risma. “Saya tidak menyangka, Ibu Risma menyambut kami sangat meriah, melebihi dari apa yang kami bayangkan. Bahkan ada seremonialnya,” ungkapnya.
Vivi terkejut karena ternyata Risma—panggilan akrabb walikota—juga bagian dari Aisyiyah. “Dan akhirnya kami bisa berfoto langsung dengan beliau,” ucap Vivi bangga.
Tintin, peserta Tanwir dari Cianjur Jawa Barat  juga sangat terkesan dengan sambutan yang sangat luar biasa dari Risma.
“Pokoknya, sambutan dan jamuannya sangat luar biasa. Senang bisa langsung bertemu dan berfoto dengan Bu Risma karena beliau juga bagian dari Aisyiyah,” ungkapnya.
Terima kasih, Bu Risma

Edukasi Dipteri Untuk Lansia Qoryah Thoyyibah

Edukasi Dipteri Untuk Lansia Qoryah Thoyyibah



Surabaya - infeksi bakteri yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta terkadang dapat memengaruhi kulit ini disebut penyakit dipteri , ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa, paparan ini disampaikan Masriah Ketua Majelis Kesehatan pimpinan daerah Aisyiyah kota Surabaya di hadapan lansia Qoryah Thoyyibah ,Rabu 17/1/18

Pergantian cuaca dan kekebalan tubuh manusia menjadi satu alasan bagi kita untuk mengenal beberapa jenis penyakit menular melalui penyuluhan dan edukasi - edukasi kesehatan yang disampaikan secara berkala oleh majelis kesehatan PDA Kota Surabaya ke cabang - cabang , salah satunya ke cabang Bulak dengan lansia Qoryah Thoyyibah nya .
Difteri umumnya memiliki masa inkubasi atau rentang waktu sejak bakteri masuk ke tubuh sampai gejala muncul 2 hingga 5 hari, gejala-gejala dari penyakit ini diawali Demam dan menggigil , sakit tenggorokan dan suara serak , sulit bernapas atau napas yang cepat , lemas dan lelah , pilek !walnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang bercampur darah.

Pengobatan difteri harus segera dilakukan untuk mencegah penyebaran sekaligus komplikasi yang serius, terutama pada penderita anak-anak, jika tidak diobati dengan cepat dan tepat, toksin dari bakteri difteri dapat memicu beberapa komplikasi yang berpotensi mengancam jiwa

" Subhanallah , hari ini penuh berkah di kegiatan PMT lansia Qoryah Thoyyibah ke tiga di bulan januari 2018 binaan Puskesmas Kenjeran akan kehadiran bu Masriyah Dahlan majelis kesehatan PDA kota Surabaya " Ujar Erna Kader Posyandu Qoryah Thoyyibah ( Bunda Tri )